{"id":3772,"date":"2023-05-23T02:26:36","date_gmt":"2023-05-23T02:26:36","guid":{"rendered":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/?p=3772"},"modified":"2023-05-23T02:26:37","modified_gmt":"2023-05-23T02:26:37","slug":"menyeimbangkan-program-afkir-dan-peremajaan-budidaya-ayam-petelur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/?p=3772","title":{"rendered":"Menyeimbangkan Program Afkir dan Peremajaan Budidaya Ayam Petelur"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>agropustaka.id, Kabar. <\/em><\/strong>Dalam budidaya ayam ras, diperlukan sebuah ketelitian dan ketepatan dalam manajemen yang akan diterapkan. Berbeda dengan ayam pedaging yang mempunyai siklus produksi pendek, pemeliharaan pada ayam petelur mempunyai siklus produksi yang panjang, sampai lebih dari 90 minggu. Untuk itu, diperlukan berbagai manajemen yang seimbang agar produksi yang optimal dapat tercapai dengan waktu yang berkesinambungan. Dalam hal ini, program afkir dan peremajaan haruslah menjadi perhatian.<\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSelama ini, memang ada umur tertentu ayam petelur dianggap memasuki masa afkir, yaitu setelah mencapai umur 90 minggu ke atas. Kalau pengalaman saya, ketika mencapai umur 90 minggu, saya melihat harga afkir. Ketika harga afkir tinggi, saya lepas tanpa melihat harga telur lagi. Pasalnya biasa terjadi saat momen seperti itu, harga telur juga sedang tinggi, sehingga peternak akan bingung mau afkir atau menunda. Tapi kalau saya lebih memilih afkir, sehingga peremajaan kita tidak terganggu. Dan kita juga masih bisa mengejar produksi dengan membeli\u00a0<em>pullet<\/em>. Dalam program afkir dan peremajaan ini memang diperlukan keseimbangan. Disinilah seni nya bagi peternak,\u201d jelas\u00a0Heru Mulyanto, Shareholder Sentra Gemilang Mulia dan Komisaris BroilerX\u00a0dalam acara Indonesia Livestock Club (ILC) beberapa waktu lalu. Acara yang diselenggarakan secara dalam jaringan (daring) tersebut terselenggara dengan kolaborasi Indonesia Livestock Alliance (ILA), Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), BroilerX, dan Keluarga Muslim Fakultas Peternakan UGM (KMFPT).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, dengan kemajuan genetik dan teknologi pemeliharaan saat ini, membuat ayam di atas umur 90 minggu masih bisa mencapai produksi yang lumayan bagus. Bahkan, Heru mengaku bahwa beberapa koleganya dapat memelihara ayam petelur hingga di atas 100 minggu. Tentu dengan catatan manajemen pemeliharaannya bagus. Namun, di sisi lain yang juga harus diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana program peremajaannya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKatakanlah afkir umur 100 minggu, dan peremajaannya mulai DOC, maka jelas akan terlalu lama. Saran saya kalau program afkir di atas umur 90, yang paling tepat untuk mengejar produksi adalah dengan pengadaan&nbsp;<em>pullet<\/em>. Jadi peremajaan ini memang harus diperhitungkan dengan matang. Dan apabila ditanya, lebih bagus memulai pemeliharaan dari&nbsp;<em>pullet<\/em>&nbsp;atau DOC, itu sangat bervariasi dan sesuai selera peternak. Tapi kebanyakan, bagi peternak yang pemeliharaannya dalam jumlah besar, untuk mengejar populasi atau tidak mau repot, mereka lebih memilih&nbsp;<em>pullet<\/em>. Tapi ada juga yang memilih mulai dari DOC, karena mempunyai lahan dan kandang yang memadai. Ini sangat bervariasi sekali,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terlepas memulai dengan DOC ataupun&nbsp;<em>pullet<\/em>, ia menyarankan untuk senantiasa teliti dan berhati-hati dalam pemilihannya. Seperti halnya dalam pengadaan&nbsp;<em>pullet<\/em>, yang jelas harus dilihat reputasi penyedia&nbsp;<em>pullet<\/em>&nbsp;tersebut. Untuk memastikan hal tersebut, Heru menjelaskan, selama ini banyak pelanggannya sering melihat pemeliharaan&nbsp;<em>pullet<\/em>&nbsp;ke kandang secara langsung. Hal ini menjadi hal yang cukup penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau untuk DOC, faktor keseragaman saat fase&nbsp;<em>starter<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>grower<\/em>&nbsp;merupakan hal yang sangat menentukan produksi ke depan. Oleh karena itu, ketika fase&nbsp;<em>brooding<\/em>, bisa dilakukan<em>&nbsp;grading<\/em>&nbsp;langsung. Hal ini untuk mencegah adanya kompetisi yang tidak seimbang yang mengakibatkan pertumbuhannya tidak rata,\u201djelasnya. Ayam yang besar makan, terus istirahat. Sedangkan, yang kecil makan belum selesai sudah habis. Inilah yang harus dihindari, sehingga ayam kecil dikumpulkan dengan yang kecil, yang besar dikumpulkan dengan besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau program\u00a0<em>grading<\/em>\u00a0berjalan baik, biasanya dalam waktu 2 minggu ayam sudah bisa seragam, baik pada pemeliharaan\u00a0<em>closed house<\/em>\u00a0maupun\u00a0<em>open house<\/em>. \u201cDalam memilih DOC, saya pikir keseragamannya antara 80-90 % dan memang dari\u00a0<em>breeding<\/em>\u00a0biasanya seperti itu. Kita biasanya susah untuk meminta ke\u00a0<em>breeding<\/em>. Untuk itu kita sendiri yang harus mengatur\u00a0<em>grading<\/em>\u00a0dan mengejar bobot badannya,\u201d jelas Heru Mulyanto. <strong><em>AP<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>agropustaka.id, Kabar. Dalam budidaya ayam ras, diperlukan sebuah ketelitian dan ketepatan dalam manajemen yang akan diterapkan. Berbeda dengan ayam pedaging yang mempunyai siklus produksi pendek,&hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3454,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-3772","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3772","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3772"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3772\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3773,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3772\/revisions\/3773"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3454"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3772"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3772"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/agropustaka.id\/wb\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3772"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}